Posted on

CINTA HAKIKI SUMBER KEBAHAGIAAN Oleh : Miftachul Wachyudi

Image

 

CINTA HAKIKI
SUMBER KEBAHAGIAAN
Oleh : Miftachul Wachyudi

Keberadaan laki-laki dan perempuan merupakan dua fondasi pokok dalam kehidupan keluarga. Berkenaan dengan itu, Allah SWT memberikan kewenangan kepada kaum laki-laki sesuai dengan kemampuan dan fitrahnya untuk memimpin bahtera hidup rumah tangga. “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebagahian yang lain (perempuan) dan kerana mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian harta mereka “ (QS. An Nisa : 34).
Seorang laki-laki harus memahami betul kaum wanita adalah pasangan hidup yang sesuai, yang dipandang bisa membertio kesenangan dalam keseharian hidup, memahami keinginan serta kehendak batinnya, dan selalu ikut merasakan apa yang dirasakannya. Kaum lelaki tak bisa menganggap bahwa kaum wanita bisa dimiliki secara mutlak. Sebabnya, kaum wanita juga memiliki sejumlah hak yang harus dipenuhi pihak laki-laki.
Allah SWT berfirman : “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah 228).”

Pernikahan

Setelah Ijab Qabul diakadkan, maka sejak saat itu seorang suami berkewajiban memperlakukan isterinya dengan baik dan bijaksana. Demikian pula halnya dengan pihak isteri. Semaksimal mungkin, seorang isteri harus memperlakukan suaminya dengan baik.. Namun, perlu diingat bahwa untuk mewujudkan suatu ikatan perkwainan yang langgeng dan harmonis tidaklah hadir dengan sendirinya, melainkan suami dan isteri harus bahu membahu untuk membinanya.
Oleh karena itu kepada pihak suami, harus dapat berinteraksi secara baik dan harmonis dengan istewrinya dan menjadikannya wanita yang lembut, pengasih, taat dan patut diteladani. Untuk menjadi seorang suami yang baik harus mengetahui berul akhlak dan kondisi ruhaniah isterinya. Selain pula harus mempelajari segenap keinginan bathin dan kecenderungan jiwanya.

Memberi kasih saying

Seorang isteri merupakan sumber kasih saying dan perwujudan perasaan secara total. Kehiduoannya selalu dipenuhi engan kecintaan dan ketergantungan.karenanya , ia selalu menginginkan suami dan anak-anaknya mencintai dan menyayangi dirinya. Apabila dirasakan bahwa suami mencintainya, ia pasti akan berbahagia.
Sebagai suami yang baik, anda perlu tahu bahwa sebelum ia menjadi isteri anda, ia mendapatkan kasih saying serta kelembutan dari kedua orang tuanya. Namun setelah akad nikah diikrarkan dalam pernikahan, ia melepaskan diri dari orangtuanya, dan menambatkan tali kasih saying dan pengertian serta kelembutan kepada anda sebagai suaminya. Isteri anda berharap dengan pernikahan yang suci ini, ia akan mendapatkan cinta yang tulus, maka ia benar-benar menyerahkan dirinya untuk melayani anda sebagai suaminya.
Sebagai suami yang baik, tentu harus berusaha sekuat tenaga untuk selalu menampakkan kecintaan dan perhatian anda kepada isteri anda. Dengan demikian suami akan dapat menguasai hati isteri untuk menjadikannya taat, jujur dan setia sampai akhir hayat, sehingga hubungan suami isteri akan berjalan lancer dan perjalanan hidup keluarga senantiasa dibalut kasih saying dan kebersamaan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa cinta murni yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam kan mampu menembus hati orang lin. Namun, jangan sampai membiarkan kecintaan yang murni itu hanya terkubur dalam hati. Ia harus diungkapkan cintanya lewat lisan dan gerak –geriknya, lakukanlah dan jangan sungkan-sungkan.
Sebagai suami, harus menunjukkan kecintaan kepada isteri secara terus terang. Uangkapkanlah rasa itu kepadanya, baik ketika ada di hadapan nada maupun tidak. Kalau sedang dalam perjalanan, sebaiknya anda menuliskan secarik kertas kepadanya yang menjelaskan tentang ketulusan cinta dan kasih saying anda. Jika suatu hari anda bisa membeli hadiah untuknya, lakulanlah dan jangan ditunda-tunda. Kalau bisa menghubunginya via telephone ketika anda sedang berada di luar rumah, lakukanlah.
Yang harus dipahami suami, bila seorangt isteri tidak mungkin melupakan kecintaan hakiki yang muncul dari lubuk hati uaminya.

Menghormati isteri

Sebagaimana suami, seorang isteri juga ingin dihotmati. Kalau seorang isteri dihargai oleh suaminya, maka ia akan merasa bahwa keberadaannya bermanfat bagi kehidupan keluarganya. Oleh sebab itu, kita dapat mengatakan bahwa isteri akan merasa berbahagia tatkala dirinya dihormati, dan akan bersedih ketika dilecehkan. Apabila seorang suami menghormati isterinya, niscaya ia akan jauh menghormati anda, dan anak-anak akan belajar dari orang tuanya. Serta cinta kasih dan kebersamaan akan selalu memompakan udara sejuk ke dalam keluarga anda.
Sebagai suami yang baik harus dapat memahami bahwa isteri anda berharap anda lebih menghormati dirinya ketimbang orang lain. Harapannya ini jelas benar dan tidak berlebihan , karena anda adalah teman hidup dan penghibur terbaik bagi hatinya. Sepanjang hari dirinya bekerja demi kesenangan anda dan anak-anak anda. Disamping itu menghormatinya tidak akan mengurangi kewibawaan anda sebagi suami. Malah sebaliknya akan semakin mengokohkan kesetiaan dan kecintaan anda kepada isteri anda.
Oleh karena itu, anda harus berbicara secara santun kepada isteri anda. Janganlah menggunakan kata-kata yang tidak senonoh ketika berbincang dengannya. Janganlah berteriak sewaktu memanggilnya . usahakanlah tidak memotong pembicaraannya. Ketahuilah seorang isteri tidak mungkin dibandingkan dengan pembantu. Ia tidak dating kerumah sebagai tawanan. Dirinya juga manusia merdeka yang dating dengan maksud bersama-sama anda membangun mahligaio kehidupan bahagia.

Tempat pelipur lara

Sebagaimana suami, isteri juga menghadapi berbahagia problem setiap harinya, terkadang sedih dan muram, terkadang tenang, terkadang muram, terkadang tenang, terkadang marah dan panic. Boleh jadi pekerjaan rumah tangga yang bertumpuk , teriakan dan tangisan anak-anak , atau ejekan kaum kerabat mempengaruhi kejiwaannya sehingga menjadikannya seperti itu. Siapapun pasti akan menghadapi banyak p-ersoalan, besar maupun kecil . semua itu jelas berpengaruh terhadap kondisi kejiwaannya, kalau sudah dalam keadaan tertekan biasanya kaum wanita akan mencari kegiatan lain demi membebaskan diri drinya.
Dalam keadaan ini, seorang isteri memerlukan seseorang yang dapat me4nghibur dan menentramkan jiwanya. Dan orang terbaik yang sanggup melakukannya hanyalah sang suami. Sebab sang suami tentu merupakan teman hidup yang tentu jauh lebih mengenal dirinya ketimbang orang lain.
Perlu para suami ketahui, jika anda memasuki rumah dan menjumpai isteri anda sedang marah, ucapkan salam dan kembangkanlah senyuman di hadapannya. Setelah itu, hiburlah dirinya dengan penuh kasih saying. Kalau itu dilakukan niscaya dirinya akan segera menunaikan pekerjaan rumahnya dengan baik dan telaten.
Jika anda dapat mengungkapkan apa yang menjadi sumber masalah yang tersembunyi di balik hatinya, dan bersimpati terhadap kesedihan dan kegelisahan nya yang begitu mendalam, niscaya anda dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan mudah. Setelah kembali pada keadaan semula, perlakukanlah dirinya dengan penuh kasih saying, ibarat seorang ayah yang sedang membelai lembut putra-putrinya.
Demikianlah beberapa hal yang perlu suami dan isteri pahami dalam membangun mahligai rumah tangga untuk mewujudkan suatu keluarga yang harmonis dan sejahtera sehingga terciptalah suasana keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

 

 

 

MEMBANGKITKAN MOTIVASI ANAK
Oleh : Miftachul Wachyudi

Banyak orang tua yang kurang mengetahui bagaimana membangkitkan motivasi anak. Banyak juga yang keliru menafsirkan kegagalan maupun keberhasilan anak, sehingga mereka salah dalam mendidik anak.
Kesalahan-kesalahan kecil, walaupun hanya dalam berkomunikasi dengan anak, dapat berakibat fatal . apalagi jika menyangkut kepercayaan diri anak. Hati-hati kepercayaan diri itu adalah hal yang sangat urgen dalam hidup manusia, terutama menyangkut kesuksesan anak.
Motivasi adalah hal yang sangat mendasar dalam hidup manusia. Untuk berbuat , berkarya menghasilkan sesuatu, terutama yang untuk hasil yang lebih, seseorang membutuhkan motivasi. Begitu juga dengan intelektual seseorang, perkembangannya membutuhkan motivasi, tidak begitu saja terjadi secara alamiah. Disini kita akan menyaksikan peran motivasi sebagai pemicu / penggerak. Menjadi motor.
Jika ingin merangsang pertumbuhan intelektual anak, cobalah perhatikan dengan seksama, apa kecenderungan hati anak anda. Akan sangat sulit bagi anak untuk termotivasi, jika hatinya selalu resah dan gundah, menyimpan sesuatu dan terlihat tidak ceria. Orang tua harus pintar-pintar berkomunikasi dengan anaknya sendiri. Jalinan komunikasi dua arah, antara anak dengan orang tua anak signifikan.
Dari komunikasi yang baik,dua arah anda akan dapat mengetahui persoalan-persoalan yang dihadapi anak. Terutama yang menyangkut perasaannya. Ingat, orang tua adalah pendidik utama anak. Kesuksesan anak di sekolah sangat ditentukan oleh kseuksesan orang tua mendidik di rumah.
Pendidikan bukan seperti mengisi penuh sebuah ember dengan air. Tetapi ia seperti menyalakan api. Pendidikan bukanlah berapa banyak guru privat yang kita undang, atau berapa banyak alat-alat atau sarana pendidikan yang kita sodorkan, kita jejalkan pada anak, tetapi yang terpenting adalah unsure dasar dalam belajar itu sendiri, motivasi.
Ketika anak masih usia dini, anak itu seumpama “mesin motivasi” yang begitu kecil. Seperti bayi yang melakukan segala hal tanpa dipikirkan. Tetapi termotivasi untuk belajar . untuk mengetahui segala yang ada di sekelilingnya. Lalu untuk menghidupkan motivasi anak dalam belajar, maupun berkreatifitas, orang tua harus pintar-pintar membaca kata hati si anak, mengetahui kondisi psikologis anak,
Orang tua sering terjebak dengan memarahi ataupun menunjukkan kekesalan tatkala mendapatkan anaknya mengabaikan pekerjaan rumah, ataupun ketika mendapat nilai yang kurang bagus dari sekolah. Seharusnya, disaaat begitu, orang tua dituntut dapat menjadi sahabat yang dapat menolong anaknya yang dapat membaca perasaannya.
Orang tua ssecara pelan mengarahkann anak agar tidak berbuat demikian lagi di lain waktu, agar anak selalu ingat akan tugasnya. Dan yangting, kata-kata negative di depan anak harus di buang jauh-jauh.
Bila si anak kelihatan kehilangan kepercayaan diri, seperti merasa tidak mampu menyelesaikan tugasnya, atau takut mencoba sesuatu yang baru, maka coba dekati dan bicaralah, seolah-ilah anda tahu persis apa yang dirasakan.
Ingatlah anak anda bahwa tidak ada seorangpun yang sempurna dan kesalahan-kesalahan harus dijadikan pemicu untuk belajar.
Jika nilai anak anda di rapor sekolah kelihatan jelek ada merahnya, dan anak anda sendiri kelihatan tidak peduli terhadap nilai itu, anda harus secepatnya menyelesaikan masalah ini. Ini pertanda anmak anda butuh motivasi. Untuk membangkitkan motivasi anak, simaklah tips-tips sederhana ini.
Berusahalah menunjukkan rasa bangga terhadap si anak. Sekali-kali berilah dia penghargaan yang tulus dengan kata-kata. Ketika ia sedang menghadai kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah , cobalah untuk mengatakan “itu sudah merupakan awal yang bagus”, atau “kamu sudah melakukan tugasmu dengan benar”, dengan sedikit ekspresi yang menunjukkan rasa bangga, walaupun mereka tahu kata-kata dan mimic wajah itu adalah bohong.
Ketika si anak mendapat hasil yang bagus, jangan lalu menghargai dengan memberikan hadiah berupa barang, misalnya sepeda. Tetapi coba ungkapkan rasa simpati yang dapat merangsang hati tetap gembira. Jika keberhasilannya berulang-ulang, barulah sesekali belikan ia hadiah, tanpa menjadikan hadiah itu sebagai bentuk penghargaan utama.
Jangan sekali-kali bercerita berulang-ulang tentang keberhasilan orang lain. Terutama orang-orang yang dikenal. Apalagi yang seusianya. Hal tersebut dapat menjadikan si anak merasa minder, kurang percaya diri. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan psikologisnya.
Berilah perhatian serius pada anak anda ketika sedang frustasi/kesusahan mengerjakan tugas yang cukup sulit baginya. Katakanlah dengan sedikit rasa yang dalam, seolah-olah anda merasakan beratnya tugas itu seperti : “Waduh berat juga tugas-tugasmu”. Jangan sekali-kali katakana “Wah, itu kan ringan, kok kamu nggak bisa.” Kata yang terkahir ini, sama artinya anda telah meremehkan kapasitas dia.
Dan yang terpenting, setiap anak mengerjakan tugas, berusahalah tunjukkan bahwa anda tidak berfikir bahwa dia tidak mampu mengerjakannya sendiri. Tetapi saat-saat tertentu barulah anda Bantu, tanpa harus berlebihan. Ini demi meningkatkan rasa percaya diri si anak. Ingat …kesuksesan dengan percaya diri seperti dua sisi mata uang yang tidak dpt dipisah.

 

 

 

 

 

 

 

 

KIAT MENGHADAPI PERKAWINAN
Oleh : Miftachul Wachyudi

Dalam perkawinan seringkali terjadi konflik yang lama kelamaan menjadi semacam perang dingin. Sengaja atau tidak, sudah diatur atau tidak, perang mulut, konflik besar dan kecil, memang terjadi dalam kehidupan rumah tangga . Rasanya mustahil mencegah hal itu, setiap pasangan perlu mempelajari beberapa hal kiat sebelum melangkah ke jenjang perkawinan.

Mengetahui calon pasangan hidup

Untuk memulai suatu kehidupan baru, hendaknya kita mengenal dengan jelas siapa calon kita itu. Karena dengan mengetahui siapa dirinya, kita pasti dapat menduga apakah kita dapat hidup bersamanya kelak? Atau mungkin calon kita itu mempunyai kekurangan yang sulit untuk diperbaiki lagi.
Namun demikian kita jangan menganggap calon kita itu sudah buruh, meskipun kita belum tahu dalamnya image buruk tentang calon kita, harus dijauhi sedini mungkin. Ini penting, karena salah paham di saat masa pendekatan dapat berakibat fatal. Dalam perkwainan , pengenalan terhadap calon pasangan hidup berfungsi amat berarti. Bukan saja untuk lebih meyakinkan diri kita, tapi juga agar kita di mata calon kita itu. Entah itu diukur dari sudut luar, atau dari sudut lainnya.
Pengenalan yang sambil lalu, tak akan membawa keberhasilan. Karena biasanya sifat setiap orang sulit untuk ditebak begitu saja. Misalnya seorang wanita yang melakukan pengenalan terhadap pria. Sepintas lalu, ketika sama-sama di tempat kerja, sifat dan sikap pria itu nampak cukup baik. Ia tidak hanya sopan dan ramah namun juga sama sekali tidak menyinggung perasaan orang lain, meskipun ia sedang marah. Namun, apakah di rumah pria itu juga bersikap demikian?
Mungkin orang-orang rumahnya saja yang tahu. Sementara orang luar hanya dapat membaca sepintas dan tak mungkin akan mengadakan pendekatan lagi . setidaknya, seorang wanita yang berhasrat terhadap seorang pria, pasti berupaya melakukan secara khusus baik itu lewat orang lain atau melakukannya secara langsung. Begitu juga sebaliknya. Karena ini merupakan peranan awal yang teramat besar fungsinya. Perlu juga diketahui, bahwa setiap orang mempunyai sifat-sifat khusus yang hanya dapat diketahui setelah kita sudah dekat betul dengannya.

Berusaha Menerima

Setelah paham siapa calon kita itu, hendaklah kita dapat menerima apa adanya. Dan sudah tentu kita tahu agama yang dianutnya, segala tingkah lakunya, maupun pergaulannya sehari-hari. Kelebihan dia yang memang hebat dalam bidang tertentu. Harus pula menjadi bekal kebanggaan kita, tetapi kita juga harus bisa menerima kekurangannya. Misalnya dia suka sekali menyinggung soal orang lain atau suka tertawa keras-keras ketika menyaksikan lawak di layer televise dan sebagainya.
Menerima calon pasangannya bukan berarti mengangguk dan setuju saja, tetapi merupakan penerimaan lahir bathin. Karena selamanya kita akan bersamanya. Tak ada orang lain yang akan bergembira kalau perkawinan itu berjalan bahagia. Namun pasti ada orang yang mengejek bila perkawinan itu retak.
Dalam menerima sang calon, hendaknya juga melalui perkataan atau maksud tertentu berguna, misalnya, seorang wanita akan menerima pria untuk menjadi suaminya. Sebelumnya harus ada semacam perjanjian. Bila si pria tak sanggup mengabulkan semacam mahar yang diminta, berarti perkawinan gagal. Jangan segalanya sudah disiapkan , tapi gagal begitu saja karena kurang sigapnya pihak wanita dalam menghadapi masalah-masalah itu.

Latar belakang pendidikan

Meskipun sikap calon pasangan hidup kita sudah cukup baik, tapi segi pendidikan pun perlu dipikirkan. Sebab pendidikan juga merupakan modal utama untuk menghadapi perkawinan. Biasanya seorang pria akan memilih wanita yang sederajat dengan pendidikannya. Paling tidak hamper sederajat.
Pria tidak ingin memilih wanita yang terlampau jauh jenjang pendidikannya. Seorang pria yang sudah meraih gelar sarjananya pasti akan memilih isteri yang sama atau sederajat dengan dirinya, minimal si isteri harus sarjana muda. Bila terpaksa hanya tamatan SMA . itupun sudah dipikirkan dengan pertimbangan yang matang. Meskipun wanita tersebut cantik, atau mempunyai kelebihan lahiriah.
Lantas muncul pertanyaan, apakah wanita yang tidak pernah mengecap bangku kuliah tak mungkin mendapatkan suami seorang sarjana? Jawabannya tentu saja mungkin. Siapa pun, bahkan yang tak sekolah sekalipun bisa memperoleh seorang suami yng sarjana. Pada kenyataannya , sejak dulu pria berupaya menjadikan isteri sebagai teman hidup, teman bercengkerama, teman berkomunikasi dan sebagainya. Lalu, kalau pendidikan dianggap kurang sepadan , mungkinkah komunikasi dapat berjalan lancer dengan pemikiran yang hamper sama?
Selain tiga factor diatas, sebenarnya masih banyak lagi factor yang dapat dijadikan pondasi utama sebelum seseorang melangkah menuju pelaminan. Karena bagaimanapun juga, hal-hal itu amatlah dibutuhkan untuk mencegah terjadinya konflik yang bisa saja terjadi. Sebagai contoh, factor pendidikan teramat penting. Jika suami lebih tinggi dan isteri hanya berpendidikan rendah, suatu ketika terjadi perselisihan, suami bisa saja memaki dengan kata-kata yang menyakitkan karena pendidikannya rendah. Begitu juga sebaliknya, isteri yang punya karir baik di perusahannya, dan suami yang Cuma seorang karyawan biasa, bisa saja menemukan ketimpangan dalam rumah tangga.
Karenanya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan , sedini mungkin kedua belah pihak harus melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan. Tak seorangpun mengharapkan perkawinannya yang sacral itu harus berakhir dengan perceraian.
Dengan mengetahui factor ini, berarti kita akan tahu persis siapa dan bagaimana pasangan kita, yang kelak akan mendampingi hidup kita.

 

 

MENGAWAL MORAL BANGSA
Oleh : Miftachul Wachyudi

Diskursus di sekitar Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Porno aksi (RUU APP) terus bergulir dan berkelanjutan. Bahkan cenderung memanas. Terdapat pihak-pihak yang merasa khawatir, risih dan gelisah, kalau RUU ini disahkan menjadi undang-undang akan menghambat dan memasung kreativitas dalam seni dan budaya. Akan menghilangkan adapt istiadat cara berpakaian khas daerah dan berbagai macam kesenian tradisional.
Bahkan ditengarai RUU ini bertentangan dengan nilai-nilai kebebasan individu dan Hak Asasi Manusia (HAM), meskipun demikian, rasanya sangat sulit di mengerti bahkan cenderung mengada-ada jika RUU ini dikaitkan dengan budaya asli daerah yang memang sangat beragam di Negara kita.
Kegigihan kelompok ini dalam menyuarakan penolakannya dengan berbagai macam argumentasu sunggunh sangat mengherankan. Seolah-olah mereka sengaja menafikan dan menafikan dan menutup mata terhadapo realitas pornografi dan pornoaksi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang semakin merajalela dan mengkhawatirkan. Surat kabar, brosur, majalah, kaset dan vcd yang berbau porno hamper tidak terkendali jumlahnya dan dijual di tempat-tempat umum dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat luas.
Di tempat-tempat tertentu, bahkan anak-anak di bawah umur yang menjadi pelanggannya. Sementara siaran televise masih asyik dan bernafsu untuk menampilkan acara-acara yang seronok, yang mengedepankan erotisme dan memamerkan aurat laki-laki maupun perempuan secara terbuka.
Beruntunglah suara yang mendukung RUU APP untuk segera disahkan menjadi undang-undang tidak kalah nyaringnya. Mereka berasal dari para alim ulama, cendekiawan, tokoh masyarakat, para politisi, para guru, para orang tua, dan bahkan kaum perempuan secara lebih khusus.
Mereka membuat pernyataan, melakukan hearing dengan DPR, menyelenggarakan kajian dan diskusi, terlibat dalam memberikan masukan untuk menyempurnakan RUU. Bahkan tidak segan-segan berdemo turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya. Mereka khawatir , jika pornografi dan pornoaklsi ini dibiarkan dan dibebaskan dengan sebebas-bebasnya tanpa ada kendali aturan, masyarakat dan bangsa akan semakin terpuruk dan jatuh tersungkur pada jurang dan Lumpur kehinaan.

Hilangnmya rasa malu

Salah satu dampak negative dari pornografi dan pornoaksi yang dirasakan semakin hebat sekarang ini adalah hilangnya rasa malu. Orang tidak lagi merasa malu dan risih memamerkan auratnya secara vulgar di depan umum.
Orang tidak lagi malu berbuat mesum dan kemaksiatan, meskipun kelihatan masyarakat luas.orang tidak merasa mali lagi diambil fotonya secara bugil tanpa busana, dengan sadar dan sengaja atas nama karya seni. Dan jika rasa malu ini hilang, maka akan rapuhlah pertahanan diri dalam menghadapi berbagai kemungkaran. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) akan semakin hebat. Kejahatan seksual akan semakin meraja lela. Dalam sebuah riwayat Imam Bukhari, rasulullah SAW bersabda, artinya: “….Jika engkau tidak punya rasa malu, lakukanlah segala sesuatu segala sesuatu sekehendak hatimu.”
Melalui sabda ini Rasulullah SAW ingin mengingatkan umat manusia akan pentingnya rasa malu dalam hidup dan kehidupan ini. Jika rasa malu tercabut, maka orang akan menghalalkan segala macam cara dalam memenuhi kebutuhannya. Hilangnya rasa malu itu merupakan sumber dari kerusakan moral. Dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda , artinya: “Iman dan rasa malu itu digandengkan (disatukan) dalam segala hal. Jika rasa malu itu diangkat (hilang), maka hilanglah imannya.”
Bayangkan oleh kita jika rasa malu ini hilang dari sebagian masyarakat kita, pasti akan terjadi kekacauan di segala sector kehidupan. Secara khusus, Rasulullah SAW mewasiatkan rasa malu ini untuk dimiliki oleh setiap kaum perempuan. Jika kaum perempuan masih memiliki rasa malu, insya Allah perbaikan masyarakat akan mudah dilakukan. Tetapi jika sudah hilang rasa malu itu, maka rusak pula lainnya. Beliau bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam ad Dilamily dari Umar yang artinya : “adil itu adalah perbuatan yang baik, dan bagi para pejabat itu sungguh lebih baik.
Kepemurahan itu adalah , dan bagi orang kaya itu jauh lebih baik. Teliti dan hati-hati adalah baik, dan bagi para ulama jauh lebih baik. Sabar itu baik, dan bagi orang-orang fakir jauh lebih baik. Taubat itu adalah baik, dan bagi para pemuda itu jauh lebih baik. Malu itu adalah baik, dan bagi perempuan itu jauh lebih baik.”
Undang-Undang anti pornografi dan pornoaksi, hakikatnya adalah upaya normative, regulative dan positif untuk mengawal moral bangsa dari kehancuran. Untuk mempertahankan rasa malu melakukan perbuatan-perbuatan tercela, buruk dan merusak. Untuk meluruskan kembali substansi dan tujuan utama dari kesenian dan kebudayaan, yaitu menghaluskan kembali substansi dan tujuan utama dari kesenian dan kebudayaan, yaitu menghaluskan hati dan pikiran serta menumbuhkan kecintaan kepada Pencipta, kepada sesame manusia dan kepada alam semesta.
Karena itu, tidak ada alas an lagi untuk menunda RUU APP menjadi undang-undang. Kita semua bertanggung jawab terhadap keselamatan bangsa dan Negara dan terutama generasi mendatang. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hasyr ayat 18 – 20 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman , bertakwalah kepada Allah , sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (18) dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik (19) tidaklah sama penghuni-penghuni Jannah; penghuni-penghuni Jannah, penghuni-penghuni Jannah itulah orang-orang yang beruntung (20).”

 

 

 

 

SUDAHKAN KITA SAKINAH
Oleh : Miftachul Wachyudi

Tujuan perkawinan menurut ajaran Islam adalah untuk membentuk keluarga sakinah, sebagaimana tercantum dalam surat ar-Ruum 21, yang sering menghiasi undangan resepsi pernikahan akhir-akhir ini. Terjemahan ayat tersebut adalah :
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah Dia telah menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, agar kamu sakinah (tenteram bahagia) dan dijadikanNya di antara kamu berdua mawaddah (perasaan cinta) dan rahmah (kasih saying), sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang berpikir (QS. Ar Ruum 21).
Ayat diatas menjelaskan tujuan perkawinan yaitu membentuk keluarga sakinah, sekaligus cara mencapainya. Ada tiga kata kunci dalam ayat tersebut yang berfungsi untuk menjadikan pasangan suami isteri meraih keluarga sakinah , yaitu : 1. Min anfusikum (dari dirimu sendiri) : 2. Mawaddah (Cinta); 3. Rahmah (kasih saying).
Kata kunci yang pertama, Min-anfusikum artinya dari dirimu sendiri. Untuk menjadi sakinah , maka seorang suami harus menjadikan isterinya bagian dari dirinya sendiri, begitu sebaliknya. Kalau isteri sudah tidak mau menjadikan bagian dari suaminya, dan suami tidak lagi merupakan bagian dari isterinya, maka akan semakin jauh dari kehidupan keluarga yang sakinah. Bisa dilihat, banyaknya kasus perceraian dikarenakan pasangan sudah tidak lagi menjadi bagian dari dirinya (min anfusikum). Satu sama lain saling mengungkap ‘aib melalui media massa, bahkan saling menuding tak ubahnya laksana musuh.
Kata kunci yang kedua, mawaddah artinya cinta. Mawaddah biasa diartikan sebagai cinta yang disertai birahi, namun mawaddah juga mempunyai makna kekosongan jiwa dari berbuat jahat terhadap yang dicintainya. Dengan mawaddah ini pasangan suami isteri saling tertarik dan saling membutuhkan.
Kata kunci yang ketiga adalah rahmah artinya kasih saying. Rahmah adalah karunia Allah yang amat besar bagi pasangan suami isteri. Meskipun mawaddah berkurang bersamaan perjalanan usia yang semakin tua, namun dengan rahmah ini menjadi perekat pasangan suami isteri bisa langgeng hingga akhir hayat.
Ketiga hal tersebut diatas, harus mendapat perhatian kedua belah pihak (suami&isteri), bahkan harus dirawat dan dikembangkan agar dapat berbuah sakinah. Rasulullah SAW mensyaratkan 5 (lima) hal bagi terwujudnya keluarga sakinah, sebagaimana hadist beliau maksudnya sbb:
“apabila Allah menghendaki keluarga menjadi baik (sakinah). Maka (ada lima hal) : 1. keluarga itu memahami ajaran agama, 2. dalam keluarga itu yang muda menghormati yang tua, (yang tua menyayangi yang muda) ; 3. lembut dalam pergaulannya; 4. hemat dalam pembelanjaan; 5. mau mengakui kelemahan diri (introspeksi diri) dan berusaha memperbaikinya.
Dari Surat Ar Ruum ayat 21, dan hadist diatas, agar lebih membumi dan dapat terukur, Departemen Agama membuat rumusan pengertian keluarga sakonah, yaitu :”keluarga yang di bina atas perkawinan yang syah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih saying antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras serta mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia.”
Dengan pengertian tersebut diatas, kiranya kita dapat menimbang nimbang, dan mengukur-ukur, sudah sakinahkah kita?

 

 

 

 

 

 

AKIBAT CEMBURU YANG TAK RASIONAL
Oleh : Miftachul Wachyudi

Ada seorang suami yang sangat cemburu kepada isterinya, lalu dia mengalami penderitaan macam-macam. Dia mengalami sakit bertahun-tahun lamanya, akibat menyimpan perasaan cemburu. Kemudian dia menderita berbagai macam penyakit, mulai dari tak bisa tidur, sakit kepala, tidak nafsu makan, marah-marah dan bertengkar terus. Demikianlah keadaan rumah tangga keluarga itu. Si isteri menjadi bingung apa masalahnya?
Rupanya suami dengan isteri ini agak sedikit menyolok perbedaannya. Si isteri dalam kondisi yang baik, kesehatannya bagus dan rupanya juga baik. Kalau ada orang yang menegur si isteri maka si suami curiga. Dan kecemburuan itu antaranya tertuju kepada seorang kerabatnya sendiri. Bila kerabatnya dating, si suami curiga. Bila ditanyakan, “Mengapa dia dating?” Jawab si Isteri, “kenapa dia tidak boleh dating, dia kan kerabat dekat saya.”
Perasaan cemburu kepada isterinya itu dia pendam, karena dia tidak berani mengungkapkan masalah yang sebenarnya yang ada dalam hatinya. Akibatnya dia menjadi sakit. Dia berobat ke dokter, karena tidak bisa tidur, kemudian di kasih obat tidur oleh dokter untuk mengobati kegelisahannya. Dia terus merasakan badan sakit dan kunjung sembuh. Hingga pada akhirnya dia merasa tidak kuat lagi menjalani hidupnya, dia merasa bisa jadi gila jika perasaan it terus menghantuinya.
Selanjutnya dia berkonsultasi kepada penulis, dia mengatakan, “Isteri saya itu, kok kaya gitu!” Dia menceritakan tentang isterinya. Isterinya tidak mengerti , dokter juga demikian. Apa penyakitnya? Yang terang perkembangan usahanya menurun, juga pergaulannya menurun. Dahulu dia disenangi orang dan banyak bicara, tetapi sekarang bicara tidak mau dan enggan bergaul. Bahkan pergi ke tempat kerja tidak mau. Kemudian si isteri pun menjadi bingung. Kata sis isteri , “kalau saya tidak bisa dijadikan isteri yang baik, dicurigai terus dan dimarahi terus, sudahlah kita berpisah saja!” terus, kata suaminya. “kalau memang berpisah itu lebih baik, maka semua akan saya ambil!” kata si isteri, “Enak benar, anak-anak masih kecil kau bawa.” Mereka sudah sampai berpikir begitu.
Ketika si isteri ditanya, bagaimana sikap sebenarnya, bagaimana pendiriannya, apakah betul apa yang dicemburui suaminya itu? Si isteri menangis lalu dia jawab dengan polos. “Saya tidak pernah berpikir untuk menyeleweng kepada orang lain, sedikit pun tidak ada perasaan itu. Sejak saya menikah, orang satu-satunya yang saya sayangi adalah suami. Dan satu-satunya orang yang menyentuh saya adalah suami. Tidak ada yang lain.”
Jadi suami itu curiga. Sampai berpikir, “Jangan-jangan isteri saya sudah berbuat serong dengan orang lain.” Perasaan itu membuat dia semakin kalut. Karena kalau dia sudah mulai berkhayal tentang isterinya berbuat serong dengan orang lain, dia bayangkan rupa orang itu lebih baik dari dia, lebih maju dan sebagainya, sehingga penderitaannya menjadi bertambah.
Nah, hal-hal seperti ini akhirnya membuat dia terganggu pikirannya. Dia menganggap penyakit psikosomatik. Dia menderita sakit dan terganggu kesehatannya, karena dia merasa bahwa isterinya tidak setia kepadanya dan mungkin berbuat serong dengan orang lain. Tuduhan itu sulit diterima oleh si isteri. Dia merasa tidak bersalah, tidak berbuat serong dan tidak berbuat apa-apa, tetapi suaminya mengada-ada.
Dari kasus tersebut nampoak, bahwa perasaan yang dipendam suaminya adalah perasaan cemburu yang terpendam, kemudian muncul ke permukaan dalam bentuk pertengkaran . akhirnya setelah konsultasi dilakukan, melalui diskusi dan bicara dalam berbagai masalah, dia conba untuk membayangkan betapa perasaan yang dia derita itu sudah demikian jauh mempengaruhi dirinya.
Dia menyangka isterinya sudah berbuat serong, tetapi ketika ditanya, “Bagaimana ketika anda menikah dengan isteri anda, apoakah isteri anda masih perawan atau tidak? “Kata dia masih”. Lalu sekarang lalu sekarang anda merasa bahwa dia tidak setia? “ apakah isteri anda suka pergi keluar ? “ dia jawab tidak.
Jadi, dia hanya menunjukkan kecurigaan-kecurigaan . akhirnya dia dapat memahami, mengapa dia sedemikian cemburu kepada isteri. Dia juga sebetulnya tidak tahu mengapa. “Tapi , isteri saya itu mengapa kalau diajak tertawa orang lain, mau saja? “keluh suami itu. “Bagaimana mungkin si isteri tidak boleh ketawa sama prang yang dia kenal baik, itu kan sebetulnya karena anda cemburu?”
Setelah dia mengungkapkan semuanya itu, maka penyebab kecurigaannya itu dapat terungkapkan. Apa sebenarnya yang membuatnya curiga. Diantaranya karena dia kurang pergaulan dan sibuk sendiri. Sedangkan keadaan isterinya sebaliknya.
Demikianlah yang sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga ada rasa cemburu terselip di dalam hati, baik di hati isteri atau suami. Akibat perasaaan cemburu itu maka perasaan curiga pun muncul kepada orang lain. Muncul perasaan takut suaminya atau isterinya dipengaruhi oleh perempuan lain atau lelaki lain.
Perasaan ini biasanya tidak mudah diungkapkan ke luar. Apalagi jika komunikasi antara suami dan isteri selalu sibuk hingga hubungan diantara keduanya kurang harmonis. Kalau salah satu pihak cemburu, lalu dia mengatakan itu dengan sebenarnya, hal itu akan lebih mudah diatasi. Misalnya seorang suami cemburu kepada isterinya, lalu ditanyakan, “Mengapa kamu begini dan begitu?” akibatnya memang bisa terjadi pertengkaran, tetapi hal itu dapat membuka kejadian yang sebenarnya dan masalahnya menjadi jelas. Demikian pula sebaliknya, maka hal itu bisa dijelaskan hingga masalahnya menjadi jelas dan terbuka.
Oleh karena itu, janganlah memendam perasaan cemburu yang berlebihan, hingga membuat akal sehat tidak lagi berfungsi, berpikirlah positif dalam hidup, sehngga perasaan cemburu yang dapat merusak kebahagiaan perkawinan bisa dihindarkan. Jika suami dan isteri selalu berpikir , maka hubungan komunikasi akan berlangsung harmonis dan lancer, sehingga kesehatan jasmani dan rohani akan tetap terjaga dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

NASEHAT UNTUK KELUARGA MUSLIM
Oleh : Miftachul Wachyudi

Agama itu adalah nasehat, untuk siapa? Untuk Allah, Kitab-Nya, RasulNya, para Imam orang-orang Islam, dan untuk orang-orang awam mereka (Riwayat Muslim)

Kepada Ibu yang Muslim

Jadilah suri teladan yang baik untuk anak-anak ibu, dan berhati-hatilah jangan sampai mereka melihat ibu melakukan perbuatan yang menyimpang dari perintah Allah SWT dan RasulNya karena anak-anak biasanya terpengaruh oleh ibunya.
Jadilah ibu sebagai isteri sholehah yang paling nikmat bagi sang suami, agar anak-anak ibu dapat terdidik dengan pertolongan Allah dalam suatu rumah yang penuh kebahagiaan suami isteri.
Agar ibu memperhatikan pendidikan kuncup-kuncup mekar dari anak-anak ibu dengan pendidikan Islam, karena mereka merupakan amanat dan tanggung jawab besar bagi ibu, maka peliharalah mereka dan berilah hak pembinaan mereka.
“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya” (al Mu’minun:8)
Rasulullah SAW bersabda : “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya” (Muttafaq ‘alaih).
Jadikanlah rumah ibu menjadi rumah keluarga muslim, dimana tidak terlihat di dalamnya suatu yang diharamkan dan tidak pula terdengar suatu kemungkaran , sehingga anak-anak dapat tumbuh dengan penuh keimanan, mempunyai akhlak yang baik, dan jauh dari tingkah laku yang tidak baik.
Hendaklah ibu memilihkan, teman-temabn untuk mereka dari teman-teman yang tidak baik. Jagalah mereka agar terhindar dari sarana yang merusak akhlak mereka
Hendaklah rasa malu merupakan akhlak yang ibu miliki, karena demi Allah malu itu termasuk sebagian d ari iman. Malu tidak membawa kecuali kebaikan (Muttafaq Alaih). Malu itu baik semuanya atau Malu itu semuanya baik (Riwayat Muslim).
Hendaknya do’a kepada Allah merupakan senjata bagi ibu dalam mengarungi kehidupan ini, dan bergembiralah dengan akan datangnya kebaikan, karena Allah telah menjanjikan :”berdo’alah kepadaKu, niscaya akan kuperkenankan bagimu”. (Al-Mukmin: 60)
Do’a adalah Ibadah” (Riwayat Abu Daud, dan Tirmidzi).

Kepada ukhti yang muslimah

Berpegang teguhlah pada ajaran-ajaran agama Islam, baik yang kecil maupun yang besar, di setiap waktu dan tempat, dan hendaknya Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW menjadi sinar penerang yang menerangi jalan anda. “Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman , maka sesungguhnya kamim akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya kami akan berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl 97)
Berhati-hatilah dari pengaruh kebathilan syeithan baik dari golongan jin dan manusia, yang sudah di make up sedemikian rupa.
Berusahalah untuk dapat menghafal kitabullah atau semampu yang dapat anda hafalkan
Peliharalah sholat 5 waktu pada waktunya masing-masing. “sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusu’ dalam sholat” (al-Mukminun 1-2). Dari Abu Hurairah r.a berkata : Aku dengar Rasulullah SAW bersabda : “Tahukan engkau jika sealiran sungai di depan rumah seseorang diantara kamu dan mandi darinya setiap kali lima kali, adakah yang masih tersisan dari kotorannya?” Para sahabat menjawab : Tentu tidak akan tersisa sesuatu kotoran pun darinya. “Beliau kemudian bersabda: “Maka hal itu seperti sholat lima waktu, Allah menghapuskan dosa-dosa dengan itu.” (Muttafaq Alaih).
Hiasilah dirimu dengan akhlak yang mulia, seperti kejujuran, amanah, rasa malu, rendah hati dan sabar.
Hindarilah tingkah laku yang tidak baik, seperti: sombong, aniayah , ghibah, bohong, namimah, hasud menipu dll.
Hendaklah akhlakmu adalah Qur’an
Hendaklah melakukan silaturahmi dan berbakti kepada kedua orang tua, karena keduanya mempunyai hak yang besar untuk itu.
Tetaplah berpegang dengan pakaian hijab yang masyru’ yang sempurna dan berbanggalah dengan pakaian tersebut.
Berhati-hatilah dan hindarilah pergaulan dengan kaum laki-laki dimana saja, karena dalam kehati-hatian tersebut terdapat penjagaan dan penghormatan terhadap diri anda.
Janganlah engkau mempersekutukan Allah , sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar suatu kezaliman yang besar.
Berbuat baiklah kepada ibu bapakmu. Ibumu telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada Ibu Bapakmu.
Dirikanlah sholat dan suruhlah manusia mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah mereka dari perbuatan munkar.
Bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Dan jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu.
Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sederhanakanlah kamu dalam berjalan. Sesungguhya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan dari.
Lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburukseburu suara adalah suara keledai.

 

 

 

PENTINGNYA PERSIAPAN MENTAL PRANIKAH
Oleh : Miftachul Wachyudi

Kecemasan, ketegangan dan ketakutan menjelang pernikahan adalah hal yang wajar dialami oleh pasangan yang akan segera menikah, khususnya mempelai wanita. Yang jelas, memasuki lembaga pernikahan bisa di analogikan seperti terjun paying. Kita tahu parasutnya tersedia, tetapi ketika tiba waktunya meloncat, badan dan pikiran rasanya amat tegang.
Mengapa demikian? Karena saat kita memutuskan untuk menikah, berarti kita akan segera memasuki dunia baru. Hidup berdampingan dengan pasangan kita, seumur hidup. Berbeda dengan pasangan duda janda, mereka tidak terlalu merasakan apa yang dirasakan pasangan muda. Pasangan duda janda ini sudah berpengalaman merajut rumah tangga dari tanpa pengalaman.
Oleh karena itu, kita yang akan menjalani kehidupan baru ini harus siap menerima segala sesuatu yang akan kita lalui suatu saat nanti bersama pasangan yang kita cintai. Biasanya kecemasan itu muncul disebabkan karena harapan, keinginan dan apa yang akan terjadi di hari esok melebur menjadi satu. Maka dari itu, yakinkanlah diri kita terlebih dahulu. Menikah bukanlah sebuah keputusan mudah. Kalau biaa menikah sekali untuk seumur hidup dan tak mengalami perceraian. Kita tidak hanya menyatukan satu individu , yakni pasangan kita sendiri saja, tetapi juga terkait dengan keluarga, lingkungan, dan budaya dari pasangan kita.
Untuk itulah, sebelum menikah sebaiknya calon pasangan poengantin baru perlu mempersiapkan psikis kita agar tidak gamang dan tegang saat menuju pelaminan. Ada beberapa factor yang mempengaruhi tingkat kesiapan seseorang untuk memasuki rumah tangga, seperti tingkat pemahaman, pola piker, kelas social, lingkungan masyarakat, dan kebiasaan. Selain itu, kita perlu memperhatikan factor-faktor sebagai berikut:

 

Meluruskan niat pernikahan
Meski pernikahan bukan suatu hal yang mudah , tetapi jika kita sudah punya niat yang tulus dan kuat maka akan selalu ada kemudahan – kemudahan yang kita dapatkan kelak. Kata orang, pernikahan yang sukses membutuhkan kerja keras dan niat yang baik antar kedua belah pihak secara terus menerus. Tapi, jangan khawatir, tak sekeras yang kita bayangkan. Bagaimanapun, menikah adalah sebuah kenikmatan

hargai setiap perbedaan dari pasangan kita
Kita perlu menyadari bahwa kita dan pasangan kita memiliki cara pandang dan persepsi yang berbeda. Tak semua orang memiliki pendapat yang sama. Karena itu, kita perlu menerima perbedaan-perbedaan yang ada antara kita berdua. Jangan berusaha memaksakan kehendak untuk mengubah kebiasaan atau perilaku pasangan kita sesuai dengan keinginan kita. Yang paling penting adalah jangan pernah beranggapan bahwa hanya prinsip kita sajalah yang selalu benar. Bila itu terjadi apa pun yang dilakukan pasangan kita akan selalu keliru di mata kita. Hal ini akan memicu konflik-konflik emosional dan juga pertengkaran. Daripada memfokuskan pikiran pada perbedaan yang bisa mengganggu hubungan , lebih baik kita menikmati berbagai kecocokan yng kita miliki.

Siap menerima kelemahan dan kelebihan pasangan
Jika tidak menyukai sesuatu hal yang dilakukan pasangan, jang an mengkritiknya berulang-ulang. Jangan pula melontarkan ucapan yang bernada sinis. Akan lebih bijaksana jika kita mengungkapkan apa yang kita rasakan dengan tanpa memancing kemarahan. Dengarkanlah pedapatnya sehingga kita berdua bisa menghargai. Masalah perbedaaan serta selera, memang akan selalu menghiasi suatu hubungan.. maka dari itu, janganlah sampai mengganggu hubungan kita. Suatu saat bukan tidak mungkin kita menghadapi perbedaan persepsi tentang masalah yang lebih serius.

Berani membuka diri dengan pasangan
Cobalah kita renungkan kembali, mungkin saja budaya dan kebiasaan keluarga kita dan keluarga pasangan kita memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Jika sangat mencolok, berarti waktu yang kita perlukan untuk menyelaraskan kebiasaan kita berdua mungkin akan makin banyak. Bila ingin memperbaiki sikap kekasih, kita perlu bersabar. Jangan sapai ia merasa jenuh, tersinggung, atau merasa dibelenggu kritik kita.

Banyaklah membaca dan mintalah saran
Ada baiknya kita mencari buku-buku seputar pernikahan. Semua itu agar kita bertambah matang dalam mengambil sikap. Jangan malu-malu untuk meminta saran dan nasehat dari orang tua yang sudah punya pengalaman lebih dari kita. Saran-saran dari orang lain memang sangat kita perlukan. Dengan begitu, kita akan lebih merasa percaya diri dan tidak kenal rasa takut untuk memutuskan hubungan kita dan pasangan sampai ke jenjang yang lebih sakral

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEJENUHAN DALAM KEHIDUPAN RUMAH TANGGA
Oleh : Miftachul Wachyudi

Sebuah kewajaran bila kehidupan berumah tangga telah melewati 5 tahun mengalami masa kejenuhan, dapat pula kurang dari itu atau lebih. Tidak mengapa pula terjadi masa-masa bosan yang bersifat temporer dan sepintas lalu. Yang penting jangan berkepanjangan, dan jangan sampai menghancurkan kehidupan berumah tangga.
Allah SWT telah mensyariatkan pernikahan. Dan menjadikan sebagian dari tujuannya adalah pemenuhan berbagai keperluan jiwa, fisik, social dan rohani. Pernikahan adalah sumber penumbuhan kesehatan jiwa dan fisik dan benteng penjaga berbagai penyakit jiwa, penyimpangan perilaku dan akhlak.
Sebuah kewajaran bila kehidupan berumah tangga telah melewati 5 tahun mengalami masa kejenuhan, dapat pula kurang dari itu atau lebih. Tidak mengapa pula terjadi masa-masa bosan yang bersifat temporer dan sepintas lalu. Yang penting jangan berkepanjangan, dan jangan sampai menghancurkan kehidupan rumah tangga.
Kebosanan umum, yaitu kebosanan yang terjadi akibat rutinitas kehidupan sehari-hari.
Kebosanan emosional, yaitu hilangnya rasa cinta kasih diantara suami isteri
Kebosanan seksual , yaitu menjalankan hubungan seksual seakan-akan merupakan sebuah kewajiban atau tidak ada pembaharuan di dalamnya.
Gejala dan bahaya kejenuhan dalam kehidupan rumah tangga.
Ada banyak dampak, tanda dan gejala adanya kejenuhan dalam kehidupan berumah tangga, diantaranya:
Pertama, pengaduan isteri bahwa suaminya tidak perhatian dan berpaling darinya, sering keluar dan begadang di luar rumah, memperlakukannya secara kasar, kering tanpa penghargaan. Suami juga mengadu bahwa isterinya mengabaikannya dan beralasan karena factor anak, banyak meminta anggaran belanja, tidak berhias di hadapannya, dan pengaduan-pengaduan lainnya.
Kedua, kejenuhan dan rutinitas dalam berbagai hubungan suami isteri , diantaranya: Kejenuhan dalam hubngan emosional dan seksualitas.
Ketiga, antara suami dan isteri merasa ada jarak dan barier psikologis , padahal keduanya hidup satu atap.
Keempat, membesar-besarkan berbagai kesalahan, buruk sangka, buruk dalam menafsirkannnnnnn ucapan dan perbuatan.
Kelima, sering terjadi perbedaan pendapat, dan suara meninggi untuk urusan sepele.
Keenam, GTM (Gerakan Tutup Mulut) diantara suami isteri, minim atau tidak ada dialog diantara keduanya sama sekali.
Ketujuh, poenderitaan pihak wanita lebih banyak sehingga kita mendapatinya bolak-balik ke klinik jiwa yang jarang sekali dimasuki oleh lelaki. Hal ini karena lelaki mempunyai berbagai cara untuk berekspresi dan mencari hiburan. Berbeda dengan perempuan yang tenggelam dalam problem dan deritanya. Hal ini melahirkan berbagai rasa sakit, cemas, mengeluh sakit kepala, perut, tidak ceria, tidak mampu lagi menikmati hal-hal yang biasa dinikmati.
Kedelapan, demi meringankan rasa bosan atau problem rumah tangga dan seksualitas, sebagian suami atau isteri lari ke cara-cara yang menyimpang , semisal narkotika dengan segala bentuknya atau menjalin hubungan haram, atau suntuk kepada pekerjaan secara berlebihan.
Kesembilan sebagian suami mencari isteri kedua atau ketiga atau keempat. Sebagian lainnya bersabar dan menanggung deritanya . sebagian isteri bersabar dan mencoba mensiasati urusannya. Sebagian lainnya berusaha mencari kompensasi atas kegalauannya dengan membeli berbagai kebutuhan sekunder atau menyibukkan diri dengan anak, atau melakukan penyimpangan dalam berbagai bentuk dan tingkatannya.
Kesepuluh, keluarga; suami isteri dan anak-anak hidup dalam berbagai perasaan negative.
Kesebelas bisa berakibat terjadinya berbagai pengkhiantan suami isteri
Kedua belas, bisa berakibat terjadinya perceraian.

Sebab kejenuhan dalam kehidupan rumah tangga

Sebagaimana kejenuhan berakibat pada munculnya gejala atau problem yang lebih besar, kejenuhan juga terakibat satu atau beberapa problem yang bertumpuk. Diantara sebab-sebab terjadinya kejenuhan dalam kehidupan rumah tangga adalah :
Pertama, memasuki kehidupan berumah tangga dengan berbagai prediksi dan obsesi ideal (jauh dari fakta). Bisa jadi suami atau isteri tidak merasakan idealismenya, lalu ia hidup dalam kenyataan yang bisa jadi membuatnya kecewa berat, lalu merasa kejenuhan, lalu meyakini bahwa kehidupan rumah tangganya telah gagal dan bahwasannya solusinya adalah mengakhiri kehidupan rumah tersebut dengan perceraian.
Kedua, pengulangan dan rutinitas harian yang membosankan.
Ketiga, masing-masing pihak tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan level kehidupan rumah tangganya ke tingkat yang lebih baik, juga tidak sungguh-sungguh dalam mencari solusi atas setiap problem yang dihadapinya.
Keempat kecurigaan dan kecemburuan secara berlebih dari salah satu suami atau isteri dan hal ini menanamkan bibit kejenuhan dalam hubungan diantara keduanya.
Kelima, hilangnya cinta kasih diantara suami dan isteri dalam tempo yang lama.

Antisipasi dan solusi

Pertama, penguatan hubungan dengan Allah SWT. Diantaranya, kebersamaan suami isteri dalam berbagai aktifitas ; seperti mengkhususkan waktu untuk melakukan wirid harian dalam menghafal Al-Qur’an, membaca istighfar, shalat sunnah, bersedekah, umrah, dan amal sholehnya yg lain.
Kedua, masing-masing pihak dan isteri hendaklah merasa bertanggung jawab atas terjadinya kejenuhan diantara keduanya. Karenanya, hendaklah masing-masing berperan dalam meng’ilaj.
Ketiga, pihak isteri perannya lebih besar dalam hal ini. Kendaklah ia memperbaharui dan mengembangkan cara memperlakukan suaminya, dalam melakukan sentuhan-sentuhan lembut dalam rumah, khususnya kamar tidur, masakan, penataan ruang dan perabot, menerapkan hobi-hobi baru, melakukan berbagai aktifitas keluarga di dalam rumah , refreshing keluarga, membuat kejutan, memberi hadiah secara periodic. Semua hal ini hendaklah suami juga melakukannya, sesuai dengan bidangnya.
Keempat, suami isteri hendaklah mengambil inisiatif dengan dialog . memunculkan tema untuk didialogkan. Ha ini membantu suami isteri untuk melewati jurang yang muncul sebelum menganga lebar.
Kelima, hendaklah suami isteri saling memahami, bagusnya semenjak awal pernikahan, caranya, masing-masing berterus terang tentang apa yang disukai dan tidak disukai . bersepakat bahwa masing-masing pihak akan berusaha memenuhi keperluan pihak lainnya, baik psikologis maupun fisik, seperti: menghargai, menghormati, saling menerima, khususnya fisik, lalu menerjemahkan kesepakatan ini dalam bentuk perilaku dan ucapan …sepanjang kehidupan suami isteri yang panjang, dengan seijin Allah.
Keenam, menghindari rutinitas dalam hubungan keluarga dan seks diantara suami isteri.
Ketujuh, hendaklah masing-masing suami isteri mempelajari kemahiran berinteraksi dengan orang lain.
Kedelapan, pengendalian diri saat emosi atau saat terjadi krisis.
Kesembilan, kehidupan suami istri tidak lain adalah partnership dalam pemikiran, emosi dan fisik dan semua kesertaan ini menjadikan kehidupan suami isteri memiliki cita rasa yang khas yang menjauhkan dari kebosanan dan kejenuhan.

 

 

 

 

 

HIDUP TENTRAM DAN BAHAGIA
Oleh : Miftachul Wachyudi

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”
(terjemah QS. Ar’Ra’du, ayat 28-29)
Alangkah enaknya hidup yang tentram dan bahagia, tiada persoalan yang tidak dapat diselesaikan dan tiada kesulitan yang tidak dapat dihadapi. Dalam kehidupan yang demikian, semuaya mempuynyai arti dan menambah kesadaran akan makna hidup, karena kesulitan, kekurangan, dan penderitaan merupakan garam hidup yang menjadikannya enak dan nikmat. Setiap kali ada kesulitan , semangat dan upaya untuk mengatasinya meningkat. Bila penyelesian ditemukan, maka hati menjadi lega, kemampuan diri pun terus meningkat. Jika bertemu dengan orang yang menderita , hatinya tergugah untuk menolong dengan kadar kemampuan yang ada padanya. Andaikan ia berharap dengan orang kasar, buruk kelakuan dan suka menyusahkan orang lain, hatinya tergugah untuk memikirkan dan mencari sebab mengapoa orang tersebut bersikap demikian.
Dalam kehidupan di masyarakat, ada aneka ragam sifat, sikap dan kelakuan. Ada orang yang tampak gelisah, tidak senang kepada orang sukses, iri dan dengki mewarnai kelakuannya, suka menghasut, dan menggunjingkan orang , tiada sesuatu yang memuaskannya :harta, pangkat dan kedudukan, pengetahuan dan keterampilan, asal dan keturunan, semua itu tidak membawanya kepada kebahagiaan. Ia gelisah, pandangan hidupnya selalu berbeda dg orang lain, diliputi pertengkaran, perbuatan salah dan berbagai hal yang tidak menyenangkan. Bahkan ia merasa seolah-olah hidupnya terhimpit oleh beban yang tidak menentu.

 

Mempunyai Harga Diri

Para pakar ilmu jiwa yang beragama Islam, berusaha mencari makna dan hikmah dari ajaran Islam, yang tujuannga membimbing manusia kepada kehidupan berbahagia di dunia dan akhirat. Maka sudah mulai tumbuh dan berkembang pengkajian terhadap ajaran Islam dalam kaqitannya dengan kesehatan mental. Ditemukan bahwa rasa dosa menjadi penyebab dari gangguan kejiwaan dan ampunan sebagai obat.
Ternyata bahwa agama Islam membawa rahmat untuk ketentraman batin dan kesehatan mental bagi yang memahaminya, secara tepat, serta melaksanakannya dengan rajin dan taat.
Tentu kita ingin tahu apa yang dimaksud dengan melaksanakan kesehatan mental yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan manusia itu. Suatu batasan sederhana tentang kesehatan mental sebagai kondisi adalah sebagai brikut : “Orang yang sehat mentalnya, merasa diri berharga, berguna, mampu memanfaatkan semua tenaga dan daya yang ada padanya seoptimal mungkin, sanggup mengatasi persoalan-persoalan keseharian dengan wajar, merasakan secara positif kemampuan berprestasi, serta terhindar dari gangguan dan penyakit kejiwaan”.
“merasa diri berharga”, artinya seorang yang sehat mentalnya merasa bahwa ia seorang yang mempunyai harga diri dan patut dihargai, terlepas dari kedudukan, pangkat, harta.dan ilmu pengetahuan yg dimilikinya.
Boleh jadi ia seorang anggota masyarakat biasa, tidak punya kedudukan atau pangkat, ia miskin dan tidak berpoengetahuan, anak dari seorang biasa bukan bangsawan atau kaum terpandang namun ia tidak merasa diorinya rendah dan tidak sanggup berbicara serta berhadapan dengan orang sehebat dan setinggi apapun. Karena ukuran untuk menentukan mulia tidaknya seseorang adalah ketakwaan.
“merasakan secara positif kemampuan berprestasi”, artinya selalu optimis menghadapi semua pekerjaan dan berani mencoba melakukan. Tidak menyerah sebelum mencoba.

About miftachulwachyudiyudee1

Yudee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s